Selasa, 10 Maret 2009

KONSELING KELOMPOK

A. Hakikat Konseling Kelompok
Konseling kelompok merupakan upaya untuk membantu individu agar dapat menjalani perkembangannya dengan lebih lancar, upaya itu bersifat preventif dan perbaikan. Dengan kata lain konseling kelompok merupakan usaha bantuan yang diberikan pada individu dalan suasana kelompok yang bersifat pencegahan serta perbaikan agar individu yang bersangkutan dapat menjalankan perkembangannya dengan lebih mudah. Selanjutnya konseling kelompok diuraikan oleh Gazda (1989) sebagai berikut.
Kegiatan konseling kelompok bersifat pencegahan dalam arti bahwa klien yang bersangkautan mempunyai fungsi dalam masyarakat, tetapi mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu dalam kehidupannya. Dengan konseling kelompok kelemahan-kelemahan itu dapat diatasi tanpa menimbulkan masalah-masalah yang gawat.
Konseling kelompok membantu individu dalam menjalani perkembangannya dengan lebih lancar, dalam arti bahwa konseling kelompok member dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat perubahan-perubahan dan memanfaatkan potensinya secara maksimal. Selanjutnya Gazda menyebutkan bahwa konseling kelompok dapat digunakan untuk membantu individu dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dalam tujuh bidang yaitu: psikososial, vokasional, kognitif, fisik, seksual, moral dan afektif.
Konseling kelompok bersifat perbaikan untuk individu-individu yang mempunyai perilaku suka menyalahkan diri sendiri (self-defeating behavior), tetapi mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah-masalahnya tanpa bantuan konseling. Walaupun demikian, dengan bantuan konseling kelompok individu diharapkan dapat mengatasi masalahnya dengan lebih cepat dan tidak menimbulkan gangguan emosi yang berarti.  

B. Tujuan Konseling Kelompok 
Konseling kelompok diberikan karena memiliki tujuan-tujuan tertentu antara lain sebagai berikut: 
1. Membantu individu dalam mencapai perkembangan secara optimal 
2. Berperan mendorong munculnya motivasi kepada individu untuk membantu membuat perubahan dengan memanfaatkan potensi secara maksimal 
3. Diharapkan individu dapat mengatasi masalahnya dengan cepat dan tidak menimbulkan gangguan emosi 
4. Menciptakan dinamika sosial yang berkembang secara intensif 
5. Mengembangkan keterampilan komunikasi dan interaksi sosial yang baik dan sehat. 

C. Ciri-Ciri Konseling Kelompok 
1. Kegiatan konseling kelompok bersifat preventif (pencegahan), dengan konseling kelompok diharapkan klien termotivasi untuk dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan potensi yang dimilikinya, 
2. Kegiatan konseling kelompok bersifat perbaikan, dalam hal ini biasanya digunakan bagi individu yang mempunyai perilaku suka menyalahkan diri sendiri (self-defeating behavior), tetapi memiliki potensi untuk menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan konseling, 
3. Kegiatannya biasanya berpusat pada hal-hal yang khusus seperti masalah pendidikan, pekerjaan, sosial, dan pribadi dari kesepakatan anggota kelompok, 
4. Pembicaraannya bersifat rahasia, 
5. Kegiatan ini merupakan hubungan antar pribadi yang menekankan pada proses berfikir secara sadar, perasaan dan perilaku anggotanya, 
6. Kegiatan ini berkaitan erat dengan penyelesaian tugas-tugas perkembangan individu selama hidupnya, 
7. Konseling kelompok menumbuhkan empati dan dorongan yang memungkinkan terciptanya rasa saling percaya dan saling peduli yang diawali antar sesama anggota kelompok dan antar sesama anggota kelompok dengan konselor, 
8. Kegiatan konseling kelompok biasanya dilakukan di dalam situasi kelembagaan, contohnya di sekolah. 

D. Unsur-Unsur Konseling Kelompok 
1. Anggota kelompok adalah individu normal yang mempunyai masalah penyesuaian yang masih dapat diatasi 
2. Konseling kelompok dipimpin oleh konselor atau psikolog dengan latihan khusus bekerja dengan kelompok 
3. Permasalahan yang dihadapi antar anggota adalah sama 
4. Metode berpusat pada proses kelompok dan perasaan kelompok 
5. Interaksi antar anggota sangat penting 
6. Berdasar pada alam kesadaran 
7. Menekankan pada perasaan dan kebutuhan anggota 

E. Tahap-tahap konseling kelompok
Dalam pelaksanaan konseling kelompok, Prayitno (1987) membagi kegiatan menjadi empat tahap, yaitu (1) tahap pembentukan atau tahap pengawalan, (2) tahap peralihan, (3) tahap kegiatan, (4) tahap pengakhiran. Dari masing-masing tahap akan diuraikan secara rinci baik yang berkenaan dengan tujuan yang ingin dicapai, kegiatan pemimpin kelompok beserta peranannya.
Tahap I
Tahap I ini dinamakan juga tahap pembentukan, dimana tahap pembentukan ini para anggota kelompok saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan kegiatan konseling kelompok yang ingin dicapai, yang dipimpin oleh pimpinan kelompok. Tahap ini ditandai dengan keterlibatan anggota kelompok dalam kegiatan kelompok.
Tahap II
Tahap II ini dinamakan tahap peralihan. Pada tahap peralihan biasanya diwarnai dengan suasana ketidakseimbangan dalam diri masing-masing anggota kelompok, yang menyebabkan tingkah lakunya tidak sebagaimana biasanya. Selain itu, tahap ini juga merupakan jembatan antara tahap pertama dan tahap berikutnya. Oleh karena itu, apabila tahap peralihan dapat dilalui dengan baik, sehingga diharapkan tahap-tahap berikutnya akan dapat juga berjalan baik.
 Tahap III
Tahap ketiga dinamakan tahap kegiatan. Tahap ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Kegiatan kelompok pada tahap ini tergantung pada hasil dari dua tahap sebelumnya. Jika tahap-tahap sebelumnya berhasil dengan baik, maka tahap ketiga ini akan berlangsung dengan lancar, dan pemimpin kelompok mungkin sudah bisa lebih santai dan membiarkan para anggota kelompok melakukan kegiatan tanpa banyak campur tangan dari pemimpin kelompok.
Tahap IV
Tahap keempat dinamakan tahap pengakhiran. Berkenaan dengan pengakhiran kegiatan kelompok pokok perhatian hendaknya lebih ditujukan kepada hasil yang telah dicapai oleh kelompok itu kemudian menghentikan pertemuan. Kegiatan kelompok sebelumnya dan hasil-hasil yang dicapai sebaiknya mendorong kelompok tersebut untuk terus melakukan kegiatan sehingga tujuan bersama dapat tercapai secara penuh. Dalam hal ini anggota kelompok yang menetap sendiri kapan kelompok itu akan bertemu. 
Ketika kelompok memasuki tahap pengakhiran, kegiatan kelompok dipusatkan pada pembahasan-pembahasan dan penjelajahan tentang apakah para anggota kelompok akan mampu menerapkan hal yang mereka pelajari pada kehidupan mereka sehari-hari.
 
F. Bentuk-bentuk konseling kelompok
1. T-group ( Kelompok latihan)
2. Kelompok pertumbuhan pribadi
3. Konsultasi kelompok keluarga
4. Terapi kelompok

4 komentar:

  1. keren nih blognya...salam kenal mbak, q jg anak BK UM 2007 offering B...thx y artikelnya!!!

    BalasHapus
  2. ada yang tau buku tentang t-group ga yah??mohon bantuannya

    BalasHapus